
Statistik yang Bikin Pusing: Apa Kata Mahasiswa dan Dosen?
Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh melakukan Survei terhadap 83 mahasiswa dan 8 dosen pengampu membongkar alasan mengapa mata kuliah Statistik Pendidikan selama ini terasa berat — dan apa yang mereka harapkan dari modul belajar generasi baru.
70% mahasiswa mengaku kesulitan memahami materi | 100% dosen menilai bahan ajar saat ini belum ideal | 80% mahasiswa PBI ingin modul berbahasa Inggris |
Sumber: Hasil survei mahasiswa dan dosen Statistik Pendidikan UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Tim Pengembang E-Modul Statistik Pendidikan, Prodi Pendidikan Matematika, UIN Ar-Raniry
Coba tanya mahasiswa mana pun yang pernah mengambil Statistik Pendidikan, dan kemungkinan besar jawabannya sama: rumus yang membingungkan, istilah yang asing, dan modul yang terasa seperti membaca ensiklopedia dibanding buku pelajaran. Dugaan itu kini punya data pendukungnya. Dalam survei kebutuhan yang melibatkan 83 mahasiswa dari sepuluh program studi dan 8 dosen pengampu, keluhan itu muncul berulang kali — dan ternyata, dosen pun sepakat.
Bukan cuma perasaan mahasiswa
Hampir 70 persen mahasiswa menyatakan benar-benar kesulitan memahami materi Statistik Pendidikan, dan proporsi yang hampir sama menilai bahan ajar yang mereka pakai selama ini masih sulit dicerna. Yang menarik, penilaian dosen justru lebih tajam. Pada lima aspek yang ditanyakan — kesesuaian dengan kebutuhan mahasiswa, sistematika materi, kemudahan bahasa, tampilan, hingga dukungan belajar mandiri — skor yang diberikan dosen seluruhnya jatuh ke kategori rendah hingga sedang.
Suara Dosen |
Kutipan itu datang dari salah satu dosen pengampu yang mengisi survei. Dosen lain menambahkan bahwa belum ada modul seragam yang benar-benar konsisten dengan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) di antara kelas-kelas paralel — artinya setiap kelas bisa saja belajar dengan "peta" yang sedikit berbeda.
Di mana letak kesulitannya, persisnya?
Begitu ditanya secara terbuka, jawaban mahasiswa mengerucut ke pola yang jelas. Empat dari sepuluh mahasiswa menunjuk rumus dan perhitungan sebagai momok utama. Di urutan berikutnya, mereka kesulitan menafsirkan hasil olah data — paham cara menghitung, tapi bingung apa artinya angka yang keluar. Sebagian menyebut aplikasi seperti SPSS sebagai tantangan tersendiri, dan sebagian lagi terjebak pada istilah-istilah statistik yang terasa seperti bahasa asing.
Lima hal yang paling sering disebut sulit: • Menghitung dan menerapkan rumus statistik • Menafsirkan hasil analisis data, bukan sekadar menghitungnya • Memilih jenis uji statistik yang tepat untuk suatu masalah • Mengoperasikan aplikasi pengolah data seperti SPSS • Istilah akademik yang belum familiar |
Namun ada juga kabar baik: tiga dari sepuluh mahasiswa mengaku tidak mengalami kesulitan berarti — biasanya mereka yang mengaku rajin memperhatikan di kelas. Artinya, persoalannya bukan semata soal "statistik itu sulit", melainkan soal bagaimana materinya disampaikan dan dilatihkan.
Solusi yang sama-sama diinginkan: e-modul
Kalau ada satu hal yang mahasiswa dan dosen sepakati tanpa ragu, itu adalah kebutuhan terhadap e-modul. Seluruh mahasiswa yang disurvei menyatakan butuh modul yang bisa diakses kapan saja dan di mana saja, serta modul yang lebih interaktif dan mudah dipahami. Di sisi dosen, dukungannya sama kuatnya — semua aspek kebutuhan e-modul yang ditanyakan mendapat skor sangat tinggi, dari soal efektivitas pembelajaran sampai potensinya meningkatkan motivasi belajar mahasiswa.
Suara Mahasiswa | Suara Dosen |
Harapan-harapan ini menunjuk ke arah yang sama: modul yang tidak berhenti pada teori, tetapi menuntun mahasiswa langkah demi langkah sampai mereka benar-benar bisa menerapkannya — lengkap dengan latihan, visual, dan umpan balik instan.
Lalu, bagaimana dengan bahasa Inggrisnya?
Satu temuan khusus datang dari mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), yang menjadi kelompok responden terbesar dalam survei ini. Delapan dari sepuluh mahasiswa PBI setuju bahwa modul statistik berbahasa Inggris bisa membantu kemampuan akademik mereka. Tapi ada syaratnya: bahasanya harus sederhana, bukan bahasa Inggris tingkat tinggi yang justru menambah beban.
Dosen pun melihat peluang yang sama lewat pendekatan Content and Language Integrated Learning (CLIL) — belajar konsep statistik dan bahasa Inggris akademik sekaligus, dalam satu modul. Hanya saja, dosen sendiri mengaku belum terlalu sering menggunakan referensi berbahasa asing dalam mengajar, sebuah sinyal bahwa modul CLIL nanti perlu dilengkapi glosarium dwibahasa — bukan cuma untuk mahasiswa, tapi juga sebagai pegangan bagi dosen.
Jadi, modul seperti apa yang akan dibuat?
Dari seluruh temuan ini, gambarannya makin jelas. E-Modul Statistik Pendidikan yang akan dikembangkan tidak dirancang sebagai sekadar versi digital dari buku cetak yang sudah ada. Modul ini akan disusun sistematis dan konsisten dengan RPS, dipenuhi contoh soal bertahap dan kasus kontekstual dari dunia pendidikan, dilengkapi kuis di setiap bab, serta — bagi mahasiswa PBI — hadir dalam versi berbahasa Inggris sederhana yang dipadukan lewat pendekatan CLIL.
Singkatnya: bukan modul yang membuat statistik makin menakutkan, tapi modul yang akhirnya menjawab apa yang selama ini diam-diam diharapkan, baik oleh mahasiswa yang duduk di kelas maupun dosen yang berdiri di depannya.
Tentang data ini. Artikel ini disusun berdasarkan hasil angket analisis kebutuhan yang disebarkan kepada 83 mahasiswa dan 8 dosen pengampu mata kuliah Statistik Pendidikan, sebagai tahap awal pengembangan E-Modul Statistik Pendidikan berbasis CLIL, Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN Ar-Raniry Banda Aceh. |
[]
